PENGEMBANGAN DATABASE PSU KOTA PRAYA MENJADI SISTEM INFORMASI BERBASIS WEB (GIS) TAHUN 2019

 

Mataram, CV. NUANSA GIS KONSULTAN – Kemajuan teknologi informasi saat ini memiliki fungsi yang telah merambah ke berbagai bidang. Kemajuan teknologi memungkinkan berbagai informasi didapatkan secara mudah, cepat, efektif dan akurat. Salah satu pemanfaatan informasi teknologi banyak dimanfaatkan untuk sarana prasarana infrastruktur. Kabupaten Lombok Tengah terus mengembangkan sarana prasarana infrastruktur terutama Prasrana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU).

Pada tahun 2017 hingga tahun 2018, Dinas Perumahan Dan Permukiman Kabupaten Lombok Tengah sudah melakukan kegiatan Penyusunan Database PJU dan Penyusunan DatabaseSaluran Drainase, JalanLingkungan Dan PedestrianPerkotaan Praya. Kegiatan ini, merupakan rangkaian kegiatan awal dalam perolehan database PSU yang terdapat di Kabupaten Lombok Tengah. Pada Akhir Tahun 2018 telah dilakukan kegiatan Pengembangan Sistem Informasi Penerangan Jalan Umum (PJU) Kabupaten Lombok Tengah dimana pada kegiatan ini telah dikembangkan SIG PSU berbasiskan WEB GIS yang dapat di akses secara online melalui website https://bankimpkploteng.com/. Dengan telah dibuatnya WEB GIS PSU ini, diharapkan mampu menjadi media online untuk melihat informasi pembangunan PSU di Kabupaten Lombok Tengah secara spasial.

Web GIS merupakan aplikasi Geographic Information System (GIS) yang dapat diakses secara online melalui internet / web. Adapun manfaat WebGIS dalam menunjang pelayanan dan menajemen Sistem Informasi PSU yaitu; a) Memudahkan pengguna (user) dalam melihat sebaran data PSU yang terdapat di Kab. Lombok Tengah, b) Tersedianya peta atau informasi PSU yang berbasis WebGIS yang tersusun dengan baik, akurat, mudah dibaca, dan mudah dimengerti, c) Dapat memudahkan dalam menganalisa, pengambilan keputusan dan interkoneksi kebijakan sarana prasana umum terutama sarana prasarana PSU.

Dalam rangka proses kegiatan di atas, CV. Nuansa GIS Konsultan berkontrak dengan Dinas Perumahan Dan Permukiman (DISPERKIM) Kab. Lombok Tengah pada pekerjaan Pengembangan Database PSU Perkotaan Praya Menjadi Sistem Informasi Berbasis Web Kabupaten Lombok Tengah dengan tujuan meningkatnya layanan informasi database PSU berbasikan WEB GIS untuk data Penerangan Jalan Umum (PJU) Kabupaten Lombok Tengah dan pembuatan aplikasi WEB GIS untuk data Jaringan Jalan, pedestrian, dan Drainase perkotaan Praya Kabupaten Lombok Tengah.

 

IMPELEMETASI KEBIJAKAN PSU DALAM DATABASE PSU PERKOTAAN PRAYA

Dalam kebijakan PSU yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 03/Prt/M/2018 Tentang Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 03/PRT/M/2015 Tentang Bantuan Prasarana, Sarana, Dan Utilitas Umum Untuk Perumahan Umum, bahwa komponen yang dapat di jadikan sebagai database PSU yaitu : jalan, drainase, air limbah, tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle),  jaringan system penyediaan air minum, penerangan jalan umum, dan tempat parkir. Dalam kebijakan PSU yang telah di implementasi oleh Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah dalam bentuk Database yaitu jalan, drainase, dan penerangan jalan umum (PJU),  dalam ketiga kompenen PSU tersebut telah di olah kedalam databse berbasis GIS. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel persandingan mengenai impelementasi kebijakan PSU dalam database PSU Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah.

Tabel 1. Persandingan Mengenai Impelementasi Kebijakan PSU Dalam Database PSU Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah Berbasis GIS

Kebijakan PSU Komponen Kebijakan PSU Implementasi Komponen DatabasePSU Perkotaan Praya Berbasis GIS Keterangan
PERMEN PUPR RI 03/Prt/M/2018 Tentang Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 03/PRT/M/2015 Tentang Bantuan Prasarana, Sarana, Dan Utilitas Umum Untuk Perumahan Umum a.    Jalan a.      Jalan & Pedestrian Telah di olah dalam bentuk database bebasis GIS
b.    Drainase b.      Drainase Telah di olah dalam bentuk database bebasis GIS
c.    Air Limbah Belum di olah dalam bentuk database bebasis GIS
d.    Tempat Pengolahan Sampah dengan Prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) Belum di olah dalam bentuk database bebasis GIS
e.    Jaringan System Penyediaan Air Minum Belum di olah dalam bentuk database bebasis GIS
f.     Penerangan Jalan Umum f.       Penerangan Jalan Umum Telah di olah dalam bentuk database bebasis GIS
b.   Tempat Parkir Belum di olah dalam bentuk database bebasis GIS

Sumber : Hasil Persandingan 2019

 

 

KONDISI SARANA PRASARANA PENERANGAN JALAN UMUM (PJU) PERKOTAAN PRAYA – KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Lampu jalan ataupun Penerangan Jalan Umum (PJU) memiliki fungsi sebagai penerangan jalan dimalam hari sehingga mempermudah pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara kendaraan dapat melihat dengan lebih jelas jalan/medan yang akan dilalui pada malam hari, sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas dan keamanan dari para pengguna jalan dari kegiatan/aksi  krimanal.

Untuk kondisi Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok tengah berdasarkan hasil verifikasi CV. Nuansa GIS Konsultan yaitutelah tersedia pada jaringan jalan Nasional (sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi) dan jalan penghubung antar kota/kabupaten (jaringan jalan kolektor), untuk Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada pada jaringan  jalan nasional dengan status yaitu legas (resmi) dengan kondisi baik dan terdapat beberapa status masih ilegal (tidak resmi) dengan kondisi masih dalam kondisi sedang. Sedangkan untuk Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada pada jaringan  jalan penghubung antar kota/kabupaten (jaringan jalan kolektor) dengan status kepemilikan yaitu ilegas (tidak resmi) dengan kondisi sedang. Untuk jumlah Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok tengah yang memiliki status legal (resmi) mencapai 447 titik peyediaan, sedangkan jumlah Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok tengah yang memiliki status ilegal (tidak resmi) mencapai 464 titik peyediaan.

Tabel 2. Jumlah PJU Status Legal dan Ilegal di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

No. Status Jalan Jumlah PJU Jumlah
Legal

(unit)

Ilegal

(unit)

1 Jalan Kabupaten 348 409 757
2 Jalan Nasional 73 5 78
3 Jalan Provinsi 26 50 76
Total Jumlah 447 464 911

Sumber : Hasil olahan database 2019

Grafik  1. Jumlah PJU Status Legal dan Ilegal diPerkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

Dalam kondisi ketinggian Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah memiliki rata – rata tinggi tiang mencapai 7-9 m, dengan kapasitas daya listrik minimal mencapai 90 watt dan maksimal mencapai 150 watt dengan jenis lampu yaitu LED, PUAR/LDE/LHE, dan Pelepas Gas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dan tabel mengenai kondisi Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berada di kabupaten Lombok tengah.

Tabel 3. Kondisi PJU Status Legal dan Ilegal diPerkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

No. Status PJU Kondisi
Baik Rusak Sedang Rusak Berat
1 PJU Legal 447 0 0
2 PJU Ilegal 0 464 0
Jumlah 447 464 0

Sumber : Hasil olahan database 2018

Grafik 2. Kondisi PJU Status Legal dan Ilegal di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

Gambar 1. Ilustrasi kondisi Penerangan Lampu Jalan (PJU) di Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

 

Gambar 2. Contoh Lampu PJU Legal (Resmi)

Gambar 3. Contoh Lampu PJU Ilegal (Tidak Resmi)

KONDISI JALAN & PEDESTRIAN DI PERKOTAAN PRAYA – KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Kondisi Jalan

Berdasarkan hasil survey panjang jalan total pada kawasan perencanaan 127.805,53 meter dengan lebar jalan antara 1,5 – 7 meter untuk jalan kabupaten dan 11 – 12 meter untuk jalan negara. Kondisi jalan dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu :

  • Kondisi jalan baik jika pada ruas jalan tersebut kurang dari 50% panjang dalam kondisi buruk
  • Kondisi jalan sedang jika pada ruas jalan tersebut 50 – 70% panjang jalan dalam kondisi buruk
  • Kondi jalan buruk jika para ruas jalan tersebut lebih dari 70% panjang dalam kondisi buruk

Untuk panjang jalan masing-masing wilayah perencanaan dan kondisinya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4. Kondisi Jalan per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Ruas Panjang Jalan (m) Baik (m) Sedang (m) Buruk (m)
1 Leneng 13.414,59 11.329,65 – 2.084,94
2 Leneng – Praya 6.770,22 6.770,22 – –
3 Leneng – Renteng – Praya 3.495,29 3.495,29 – –
4 Panjisari 8.501,50 6.308,10 1.727,36 466,04
5 Panjisari – Prapen 11.808,99 11.497,59 311,40 –
6 Prapen 7.564,49 5.219,97 2.225,15 119,36
7 Prapen – Praya – Semayan – Tiwu Galih 2.636,04 2.636,04 – –
8 Prapen – Tiwu Galih 1.064,55 – 1.064,55 –
9 Prapen – Semayan 448,34 448,34 – –
10 Praya 26.239,83 23.130,58 1.406,89 1.702,36
11 Praya – Bunut Baok 5.458,59 4.668,19 790,40 –
12 Renteng 11.296,18 10.272,79 – 1.023,39
13 Leneng – Renteng 4.394,40 4.394,40 – –
14 Semayan 14.216,76 9.045,39 2.682,86 2.488,51
15 Tiwu Galih 8.157,99 6.228,48 – 1.929,52
16 Tiwu Galih – Semayan 2.337,77 2.337,77 – –
Jumlah 127.805,53 107.782,80 10.208,61 9.814,12

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 3. Kondisi Jalan per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan hasil survey pada kawasan perencanaan jalan yang masuk dalam kategori kondisi baik sepanjang 107.782,80 m, kondisi sedang 10.208,61 m dan buruk 9.814,12 m.  Jika diperhatikan pada tabel di atas kondisi jalan yang masih dalam kondisi buruk terpanjang berada pada ruas jalan di Kelurhan Semayan yaitu mencapai 2.488,51 m.

Gambar 4. Jalan Kondisi Buruk di Kelurahan Leneng

Gambar 5. Jalan Raflesia Kondisi Sedang dan Jalan Sakura Kondisi Baik

Perkerasan Jalan

Perkerasan pada umumnya terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang tersusun dari bawah ke atasnya, sebagai perikut :

  • Lapisan tanah dasar (sub grade)
  • Lapisan pondasi bawah (subbase course)
  • Lapisan pondasi atas (base course)
  • Lapisan permukaan / penutup (surface course)

 

Jenis perkerasan terdiri dari :

  • Perkerasan lentur / aspal dengan bahan pengikat aspal yang sering disebut campuran aspal panas atau hot mix.
  • Perkerasan kaku / beton semen / rabat terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.
  • Perkerasan menggunakan paving block yaitu jenis perkerasan yang terbuat dari campuran pasir dan semen ditambah atau tanpa campuran lainnya (abu batu atau lainnya). Paving block atau blok beton terkunci merupakan suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis lainnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu beton tersebut.

Tabel 5. Jenis Perkerasan Jalan per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Ruas Panjang Jalan (m) Aspal (m) Paving (m) Rabat (m) Tanah (m)
1 Leneng 13.414,59 9.034,11 613,99 3.529,30 237,20
2 Leneng – Praya 6.770,22 6.770,22 – – –
3 Leneng – Renteng – Praya 3.495,29 3.495,29 – – –
4 Panjisari 8.501,50 3.872,99 515,97 3.858,08 254,46
5 Panjisari – Prapen 11.808,99 11.808,99 – – –
6 Prapen 7.564,49 7.034,64 – 529,85 –
7 Prapen – Praya – Semayan – Tiwu Galih 2.636,04 2.636,04 – – –
8 Prapen – Tiwu Galih 1.064,55 1.064,55 – – –
9 Prapen – Semayan 448,34 448,34 – – –
10 Praya 26.239,83 23.031,81 1.567,45 1.167,56 473,01
11 Praya – Bunut Baok 5.458,59 5.458,59 – – –
12 Renteng 11.296,18 5.708,83 1.438,69 3.884,43 264,22
13 Leneng – Renteng 4.394,40 4.394,40 – – –
14 Semayan 14.216,76 11.953,78 294,63 316,33 1.652,01
15 Tiwu Galih 8.157,99 3.452,27 613,65 3.609,88 482,20
16 Tiwu Galih – Semayan 2.337,77 2.337,77 – – –
Jumlah 127.805,53 102.502,60 5.044,38 16.895,43 3.363,10

Sumber :Hasil Survey, 2018

Grafik  4. Jenis Perkerasan Jalan per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan hasil survey CV. Nunansa GIS Konsultan secara umum jenis perkerasan jalan di kawasan perencanaan memiliki perkerasan aspal sepanjang 102.502,60 m sedangkan sisanya masih menggunakan perkerasan paving dan rabat. Panjang jalan yang masih menggunakan perkerasan paving 5.044,38 m dan 16.895,43 m jalan masih menggunakan perkerasan rabat. Bahkan ada di beberapa ruas jalan yang masih belum menggunakan perkerasan dimana jalan masih dalam kondisi aslinya yaitu tanah. Wilayah yang jalannya masih tanah masing-masing terdapat pada ruas jalan di Leneng 237,20 m, ruas jalan di Panjisari 254,46m, ruas jalan di Praya sepanjang 473,01 m, ruas jalan di Renteng 264,22 m, ruas jalan di Semayan 1.652,01 m dan ruas jalan di Tiwu Galih sepanjang 482,20 m. Kedepannya kondis jalan yang belum diperkeras memerlukan peningkatan konstruksi tanah sehingga lebih nyaman dan aman untuk dilewati kendaraan bermotor.

Gambar 6. Jalan Gajah Mada dengan Perkerasan Aspal

Gambar 7.Perkerasan Paving (Kel. Praya) dan Perkerasan Rabat (Jln H. Muhasan)

Gambar 8. Jalan Tanah

 

Fungsi Jalan

Fungsi jalan secara umum diklasifikasikan menjadi jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan.

  • Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk (akses) dibatasi secara berdaya guna
  • Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi
  • Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi
  • Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat dan kecepatan rata-rata rendah

Tabel 6. Fungsi Jalan per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Ruas Panjang Jalan (m) Arteri (m) Kolektor (m) Lokal (m) Lingkungan (m)
1 Leneng 13.414,59 – – 5.353,85 8.060,74
2 Leneng – Praya 6.770,22 2.339,30 – 3.878,86 552,05
3 Leneng – Renteng – Praya 3.495,29 – 3.495,29 – –
4 Panjisari 8.501,50 – – 1.189,60 7.311,90
5 Panjisari – Prapen 11.808,99 9.901,62 – 1.907,37 –
6 Prapen 7.564,49 – – 5.440,76 2.123,73
7 Prapen – Praya – Semayan – Tiwu Galih 2.636,04 2.636,04 – – –
8 Prapen – Tiwu Galih 1.064,55 – – 1.064,55 –
9 Prapen – Semayan 448,34 – – 448,34 –
10 Praya 26.239,83 2.553,18 6.607,14 17.079,52
11 Praya – Bunut Baok 5.458,59 – 1.771,40 1.876,26 1.810,93
12 Renteng 11.296,18 – – 1.657,54 9.638,64
13 Leneng – Renteng 4.394,40 – – 4.394,40 –
14 Semayan 14.216,76 – 1.106,77 9.961,18 3.148,81
15 Tiwu Galih 8.157,99 – – 3.237,99 4.919,99
16 Tiwu Galih – Semayan 2.337,77 – – 2.337,77 –
Jumlah 127.805,53 14.876,96 8.926,64 49.355,61 54.646,31

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 5. Fungsi Jalan per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan hasil survey fungsi jalan pada kawasan perencanaan didominasi oleh jalan dengan fumgsi lingkungan sepanjang 54.646,31 m. Untuk jalan dengan fungsi arteri sepanjang 14.876,96 meter yaitu jalan Gadjah Mada, Jalan TGH. Lopan dan Jalan Jenderal Sudirman. Sedangkan jalan dengan fungsi kolektor sepanjang 8.926,64 m yaitu jalan Mandalika, Jalan Basuki, Jalan H. Lalu Hasim dan Jalan Pejanggik. Sedangkan sisanya merupakan jalan lokal dan lingkungan. Panjang jalan dengan fungsi jalan lokal yaitu 49.355,31 yang tersebar hampir di selurh jalur penghubung pada kawasan perencanaan.

 

Gambar 8. Jalan Jenderal Sudirman dengan Fungsi Arteri

 

Gambar 9.Jalan Basuki Rahmad dengan Fungsi Kolektor

Gambar 10. Jalan Sakura dengan Fungsi Lokal

Gambar 11. Jalan Mangga dengan Fungsi Lingkungan

Pedestrian

Pedestrian merupakan ruang khusus untuk pejalan kaki yang berfungsi sebagai sarana pencapaian yang dapat melindungi pejalan kaki dari bahaya yang datang dari kendaraan bermotor.

Tabel 7. Kondisi Perkerasan dan Kondisi Pedestrian per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No Lokasi Panjang Lebar Perkerasan Kondisi
1 Leneng 567.56 2.00 Batu Sikat Baik
1384.32 1.50 Batu Sikat Baik
226.37 1.50 Batu Sikat Baik
786.49 1.25 Rabat Baik
203.36 1.70 Rabat Baik
2 Panjisari 185.28 1.75 Batu Sikat Baik
97.33 1.70 Batu Sikat Baik
2025.07 2.25 Batu Sikat Baik
3 Prapen 152.83 1.50 Batu Sikat Baik
451.00 2.50 Batu Sikat Baik
526.24 1.50 Batu Sikat Baik
222.46 1.70 Batu Sikat Baik
191.56 1.75 Batu Sikat Baik
191.70 1.70 Batu Sikat Baik
359.11 1.70 Paving Block Baik
389.22 1.70 Paving Block Baik
85.10 1.50 Batu Sikat Baik
314.62 1.50 Batu Sikat Baik
4 Praya 231.75 2.00 Batu Sikat Baik
695.56 1.70 Paving Block Buruk
694.19 1.70 Rabat Baik
133.52 1.70 Batu Sikat Buruk
682.14 1.75 Paving Block Sedang
1033.69 1.75 Paving Block Sedang
276.51 1.25 Batu Sikat Baik
276.35 1.75 Batu Sikat Baik
177.31 1.70 Paving Block Baik
212.37 1.75 Batu Sikat Baik
211.32 1.70 Batu Sikat Baik
234.64 1.70 Batu Sikat Baik
442.68 1.70 Batu Sikat Baik
645.79 1.70 Paving Block Baik
644.3 1.70 Batu Sikat Baik
2254.09 2.00 Batu Sikat Baik
Jumlah 17.205,89      

Sumber :Hasil Survey, 2019

 

Gambar 12. Kondisi dan Jenis Perkerasan Pedestrian

 

 

KONDISI JARINGAN DRAINASE PERKOTAAN PRAYA – KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Drainase merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari permukiman, industri, pertanian, badan jalan dan permukaan perkerasan lainnya serta berupa penyaluran kelebihan air yang pada umumnya berupa air hujan, air limbah maupun air kotor yang keluar dari kawasan yang bersangkutan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah ke badan air atau ke bangunan resapan buatan.

Drainase dapat digunakan untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase merupakan salah satu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah.

Jenis Salura Drainase

Menurut cara terbentuknya jenis drainase dibedakan menjadi drainase alami dan drainase buatan. Drainase alamiah merupakan drainase yang terbentuk secara alami dan tidak terdapat bangunan-bangunan penunjang seperti bangunan pelimpah, pasangan batu/beton, gorong-gorong dan lain-lain. Saluran ini terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena gravitasi yang lambat laun membentuk jalan air yang permanen seperti sungai. Sedangkan draianse buatan merupakan drainase yang dibuat dengan maksud dan tujuan sehingga memerlukan bangunan-bangunan khusus seperti selokan pasangan batu/beton, gorong-gorong, pipa-pipa dan sebagainya.

Drainase yang berada di kawasan perencanaan memiliki panjang dan lebar berbagai macam. Secara umum lebar drainase perkotaan memiliki lebar antara 0,2 meter – 4 meter.

Tabel 8. Jenis SaluranDrainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Alami Buatan
1 Leneng 22.046,46 972,80 21.073,66
2 Panjisari 11.770,42 110,61 11.659,81
3 Prapen 17.884,91 – 17.884,91
4 Praya 46.839,76 297,11 46.542,65
5 Renteng 11.532,54 1.413,68 10.118,86
6 Semayan 15.090,03 2.475,43 12.614,59
7 Tiwu Galih 5.179,34 85,29 5.094,06
Jumlah 130.343,46 5.354,92 124.988,54

Sumber :Hasil Survey, 2018

Grafik 6. Jenis SaluranDrainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan hasil survey CV. Nunasa GIS Konultan panjang drainase perkotaan di kawasan perencanaan yaitu 130.343,46 meter. Secara umum jenis drainase jika dilihat dari cara terbentuknya dibagi menjadi drainase alami dan buatan. Jenis drainase yang dominan jika dilihat dari cara terbentuknya adalah drainase buatan dengan panjang 124.988,54 meter, sedangkan drainase alami sepanjang 5.354,92 m. Drainase terpanjang berada di Kelurahan Praya, dan yang paling sedikit ketersediaan drainase berada di Kelurahan Tiwu Galih.

Gambar 13.  Drainase Buatan dan Drainase Alami

 

Kondisi Saluran Drainase

Kondisi saluran drainase dibagi menjadi 3 (tiga) klasifikasi yaitu : baik, sedang dan buruk. Pembagian ketiga klasifikasi tersebut didasarkan atas :

  • Drainase dikatakan dalam kondisi baik jika genangan di sekitar drainase normal kurang dari 25% areal yang tergenang air
  • Drainase dikatakan dalam kondisi sedang jika genangan di sekitar drainase antara 25 – 50%
  • Drainase dikatakan dalam kondisi buruk jika 50% kawasan tergenang air

Selain dari kondisi di atas penilaian untuk kondisi draianse dilihat juga berdasarkan konstruksi fisik drainase, sehingga berdasarkan hasil survey maka drainase didominasi dengan kondisi baik yaitu 63.437,40 m. Kondisi lainnya yaitu masuk dalam kategori sedang dan buruk.

Tabel 9. Kondisi Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Baik Sedang Buruk
1 Leneng 22.046,46 7.294,13 9.485,94 5.266,38
2 Panjisari 11.770,42 8.165,99 2.306,2 1.298,25
3 Prapen 17.884,91 7.294,53 1.873,78 8.716,60
4 Praya 46.839,76 24.732,37 15.890,38 6.217,01
5 Renteng 11.532,54 5.029,60 684,60 5.818,33
6 Semayan 15.090,03 9.558,29 1.208,99 4.322,74
7 Tiwu Galih 5.179,34 1.362,49 1.437,75 2.379,11
Jumlah 130.343,46 63.437,40 32.887,64 34.018,42

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 7. Kondisi Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan hasil survey drainase dalam kondisi baik sepanjang 63.437,40 m, drainase dalam kondisi sedang 32.887,64m dan drainase buruk sepanjang 34.018,42 m. Kondisi drainase yang buruk ini mengindikasikan bahwa pada kawasan tersebut sering terjadi genangan.

Gambar 14 Drainase Kondisi Sedang dan Drainase Kondisi Buruk

Letak Saluran Drainase

Menurut letak bangunan saluran drainase dibedakan menjadi 2 jenis yaitu drainase permukaan tanah / di atas permukaan dan draianse bawah permukaan tanah atau di bawah permukaan. Draianse permukaan tanah merupakan saluran draianase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan, analisa alirannya merupakan open chanel flow. Sedangkan saluran di bawah permukaan tanah yaitu saluran draianse yang bertujuan untuk mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu. Alasan yang dapat digunakan yaitu : artistik, tuntukan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, taman dan sebagainya. Seluruh saluran drainase di kawasan perencanaan perkotaan Praya merupakan drainase di atas permukaan.

Tabel 10. Letak Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Di atas permukaan Di bawah permukaan
1 Leneng 22.046,46 22.046,46 –
2 Panjisari 11.770,42 11.770,42 –
3 Prapen 17.884,91 17.884,91 –
4 Praya 46.839,76 46.839,76 –
5 Renteng 11.532,54 11.532,54 –
6 Semayan 15.090,03 15.090,03 –
7 Tiwu Galih 5.179,34 5.179,34 –
Jumlah 130.343,46 130.343,46 –

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 8. Letak Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Pemanfaatan Saluran Drainase

Jenis drainase menurut fungsi atau pemanfaatan saluran dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu : single purpose dan multi purpose.Single purpose yaitu saluran drainase yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan, misalnya air hujan saja atau jenis air buangan lainnya seperti limbah domestik, air limbah industri dan lainnya. Sedangkan multi purpose merupakan saluran draianse yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air buangan baik secara bercampur maupun bergantian. Untuk jenis drainase menurut fungsi pemanfaatannya di kawasan perencanaan perkotaan Praya seluruhnya memiliki fungsi multi purpose.

 

Tabel 11. Pemanfaatan Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Singel Purpuse Multi Purpose
1 Leneng 22.046,46 – 22.046,46
2 Panjisari 11.770,42 – 11.770,42
3 Prapen 17.884,91 – 17.884,91
4 Praya 46.839,76 – 46.839,76
5 Renteng 11.532,54 – 11.532,54
6 Semayan 15.090,03 – 15.090,03
7 Tiwu Galih 5.179,34 – 5.179,34
Jumlah 130.343,46 – 130.343,46

Sumber :Hasil Survey, 2019

 

Grafik 9. Pemanfaatan Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Konstruksi Saluran Drainase

Drainase berdasarkan konstruksinya dibedakan menjadi saluran terbuka dan tertutup. Saluran drainase tertutup biasanya digunakan di daerah perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Saluran ini berisi air kotor bahkan sampah rumah tangga juga terdapat di dalamnya. Pertimbangan menggunakan saluran tertutup karena saluran tersebut jika dibiarkan terbuka akan menimbulkan bau yang menyengat dan dapat mengganggu kesehatan. Sedangkan saluran terbuka dibuat untuk menampung danmengalirkan air hujan dari hulu ke hilir. Semakin ke hilir saluran terbuka berfungsi sebagai saluran campuran. Ukurannya pun beragam tergantung dari volume dan debit air pada kawasan tersebut. saluran terbuka biasanya memiliki luasan yang cukup untuk mengalirkan air hujan atau air limbah yang tidak membahayakan kesehatan lingkungan dan tidak mengganggu keindahan.

Tabel 12. Bentuk Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Terbuka Tertutup
1 Leneng 22.046,46 20.699,92 1.346,54
2 Panjisari 11.770,42 9.523,24 2.247,18
3 Prapen 17.884,91 16.463,15 1.421,76
4 Praya 46.839,76 44.768,25 2.071,51
5 Renteng 11.532,54 11.532,54 –
6 Semayan 15.090,03 14.015,95 1.074,07
7 Tiwu Galih 5.179,34 4.122,64 1.056,71
Jumlah 130.343,46 121.125,69 9.217,77

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 10. Bentuk Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan hasil survey lapangan jenis drainase jika dilihat dari bentuknya terbuka atau tertutup, sebagian besar bentuk drainase pada kawasan perencanaan berbentuk terbuka sepanjang 121.125,69 m. Sedangkan sisanya merupakan saluran tertutup sepanjang 9.217,77m.

Fungsi Layanan Saluran Drainase

Fungsi saluran drainase berdasarkan fungsi layanan dibagi menjadi 3 (tiga jenis), yaitu : sistem drainase lokal, sistem drainase utama dan pengendalian banjir (flood control).

  • Sistem drainase lokal merupakan saluran awal yang melayani suatu kawasan kota seperti komplek, areal pasar, perkantoran dan komersial. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau pengelola kawasan.
  • Sistem drainase utama merupakan jaringan saluran drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan pelengkapnya yang melayani kepentingan sebagaian besar warga masyarakat. Sistem saluran ini menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan air hujan yang biasanya bersumber dari saluran drainase primer, kanal dan sungai. Pada umumnya sistem draianse berfungsi juga sebagai saluran pembuangan utama sekaligus sebagai peghubung antara drainase dan pengendalian banjir. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten / kota.
  • Pengendalian banjir (flood control), Pengendalian banjir merupakan usaha untuk mengendalikan air sungai yang melintasi wilayah kota, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia. Pengelolaan/pengendalian bajir merupakan tugas dan tanggung jawab dinas pengairan.

Pada kawasan perencanaan panjang saluran drainase dengan fungsi layanan utama sepanjang 127.270,90 dan yang memiliki fungsi layanan lokal 3.072,56 m. Drainase dengan fungsi layanan utama dapat dibagi lagi menjadi primer, sekunder dan tersier dimana arah alirannya bermuara pada drainase primer. Sehingga drainase primer menerima limpasan air dari drainase sekunder.

Tabel 13. Fungsi Layanan Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Utama Lokal
1 Leneng 22.046,46 21.213,15 833,31
2 Panjisari 11.770,42 11.198,69 571,73
3 Prapen 17.884,91 16.470,87 1.414,04
4 Praya 46.839,76 46.839,76 –
5 Renteng 11.532,54 11.279,06 253,48
6 Semayan 15.090,03 15.090,03 –
7 Tiwu Galih 5.179,34 5.179,34 –
Jumlah 130.343,46 127.270,90 3.072,56

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 11. Fungsi Layanan Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Fungsi Saluran Drainase

Berdasarkan fungsi saluran jenis drainase dibedakan menjadi saluran primer, saluran sekunder dan saluran tersier. Sistem saluran primer merupakan saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran sekunder dengan dimensi saluran yang relatif besar. sistem saluran sekunder merupakan saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya dan meneruskannya ke saluran primer dengan dimensi tergantung dengna debit yang dialirkan. Sedangkan sistem saluran tersier merupakan saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.

Tabel 14. Fungsi Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Primer Sekunder Tersier
1 Leneng 22.046,46 8.034,42 8.425,35 5.586,70
2 Panjisari 11.770,42 1.591,98 3.887,25 6.291,20
3 Prapen 17.884,91 9.069,91 5.689,69 3.125,31
4 Praya 46.839,76 11.688,11 25.421,13 9.730,52
5 Renteng 11.532,54 2.866,54 7.905,15 760,84
6 Semayan 15.090,03 6.609,14 6.166,51 2.314,38
7 Tiwu Galih 5.179,34 1.018,68 2.528,31 1.632,35
Jumlah 130.343,46 40.878,78 60.023,38 29.441,30

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 12. Fungsi Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

 

Berdasarkan data panjang saluran primer yaitu 40.878,78 m, saluran yang masuk ke dalam jenis sekunder 60.023,38 m dan tersier 29.441,30 m. Pada kawasan perencanaan saluran jenis primer terpanjang berada di Kelurahan Praya begitu halnya dengan saluran sekunder dan tersier terpanjang berada pada kelurahan tersebut.

Pola Saluran Drainase

Drainase jika dilihat dari pola jaringan maka dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu, siku, pararel, grid iron, alamiah dan radial.

  • Pola siku, drainase dibuat pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi dari pada sungai. Sungai sebagai saluran pembuang akhir berada di tengah kota
  • Pola pararel, drainase yang memiliki saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendek-pendek, apabila terjadi perkembangan kota saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri.
  • Pola grid iron, drainase untuk daerah dimana sungainya terletak di pinggir kota, sehingga saluran-saluran cabang dikumpulkan dulu pada saluran pengumpulan
  • Pola alamiah, drainase sama seperti pola siku hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar
  • Pola radial, draianse pada daerah berbukit, sehingga pola saluran memencar ke segala arah

Tabel 15. Pola Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

No. Lokasi Panjang Siku-siku Pararel
1 Leneng 22.046,46 8.643,20 13.403,26
2 Panjisari 11.770,42 – 11.770,42
3 Prapen 17.884,91 1.822,52 16.062,39
4 Praya 46.839,76 46.839,76 –
5 Renteng 11.532,54 3.120,02 8.412,51
6 Semayan 15.090,03 – 15.090,03
7 Tiwu Galih 5.179,34 3.774,96 1.404,38
Jumlah 130.343,46 64.200,47 66.142,99

Sumber :Hasil Survey, 2019

Grafik 13. Pola Saluran Drainase per Masing-masing Kelurahan di Kawasan Perkotaan Praya

Berdasarkan hasil survey hanya terdapat 2 (dua) pola drainase pada kawasan perencanaan, yaitu pola siku dan pola pararel. Drainase yang memiliki pola siku sepanjang 64.200,47 m dan yang memiliki pola pararel sepanjang 66.142,99 m.

Bangunan Pelengkap Saluran Drainase

Bangunan penunjang drainase merupakan banguna pelengkap yang menjamin berfungsinya saluran drainase secara baik. Bangunan-bangunan pelengkap ini bisanya terdapat di tempat-tempat tertentu yang membutuhkan. Jenis bangunan pelengpa drainase antara lain : bangunan silang seperti gorong-orong, bangunan pemecah energi seperti bangunan terjun dan saluran curam, bangunan pengaman erosi seprti gund sill, bangunan inlet, bangunan outlet, bangunan pintu air, bangunan rumah pompa, bangunan rumah tandum, bangunan lubang kontrol atau manhole, bangunan grill saluran, banguna deck drain, bangunan instalasi pengolahan limbah dan sebagainya.

Bangunan pelengkap saluran drainase yang ada di kawasan perkotaan Praya antara lain berupa gorong – gorong, inlet, pintu air dan jembatan.

HASIL PEMBUATAN APLIKASI WEB GIS

Berdasarkan hasil survey lokasi yang telah dilakukan dengan melihat Citra satellite lokasi, di temukan bahwa hasil data – data lapangan ter Ortho dan valid dengan Pengolahan Citra Digital Jenis WorldView Resolusi 0,5 m. Sehingga ditemukan hasil data yang telah di verifikasi dengan PSU (Jaringan Drainase, Penerangan Jalan Umum, Jaringan Jalan dan Pedestrian) di Kabupaten Lombok Tengah. Setelah melakukan tahap verifikasi PSU di Kabupaten Lombok Tengah, kemudian dilakukannya tahap pembuatan dan pengolahan database yang kemudian digunakan untuk pengimputan sebagai Aplikasi Web Gis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar mengenai alur pembuatan aplikasi Web Gis dan hasil peta Aplikasi Web Gis.

Gambar 15. Alur pengerjaan kegiatan Verifikasi Database dengan citra satelite hingga menjadi Aplikasi Web Gis

 

Peta 1. WebGIS PJU Legal di Wilayah Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

 

Peta 2. WebGIS sebaran jaringan jalan Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

Peta 3. WebGIS sebaran jaringan Drainase Perkotaan Praya – Kabupaten Lombok Tengah

 

Pekerjaan Pengembangan Database PSU Perkotaan Praya Menjadi Sistem Informasi Berbasis Web Kabupaten Lombok Tengah masih perlu ditingkatkan dalam penerapan sistem informasi publik sehingga dalam sistem informasi spasial yang dapat memudahkan kinerja pengendalian pemanfaatan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU) dan meningkatkan kualitas proses pengambilan keputusan dan dapat diakses oleh masyarakat dalam bentuk Sistem Informasi Data Berbasis Geografis. Sehinga untuk Kota/Kabupaten yang ingin melakukan kegiatan serupa serta untuk mengetahui lebih jelas terkait dengan Pembuatan Sistem Informasi Data Berbasis Geografis dapat menghubungi kami yang tertera pada kontak di website ini.